KONFLIK INTERNAL KNPI JADI CATATAN KRITIS, PEMUDA JANGAN JADI KORBAN EGO POLITIK
Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia [PMII] Kabupaten Pangandaran angkat bicara
PMII Pangandaran
31 Agustus 2026 · 2 min baca · 54 views

PANGANDARAN – Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia [PMII] Kabupaten Pangandaran angkat bicara terkait dinamika internal Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia [DPD KNPI] Kabupaten Pangandaran. Isu "mosi tidak percaya" dari sejumlah Organisasi Kemasyarakatan Pemuda [OKP] kepada Ketua DPD KNPI Pangandaran menjadi sorotan publik beberapa hari terakhir.
Hal tersebut disampaikan oleh seorang Kader PMII Pangandaran, Predi Supriadi, melalui rilis resmi yang diterima redaksi pada Minggu, 31 Agustus 2026.
Sebagai salah satu organisasi kader yang secara struktural tergabung dalam kepengurusan DPD KNPI Kabupaten Pangandaran, PMII Pangandaran mengaku memiliki tanggung jawab moral untuk menyikapi persoalan ini.
"Kami mengikuti perkembangan ini dengan prihatin. KNPI adalah rumah besar tempat berhimpunnya seluruh OKP di Pangandaran. Ketika rumah itu sendiri sedang retak, maka wajar jika publik bertanya: masih layakkah KNPI menjadi representasi suara pemuda?" ujar Predi Supriadi.
1. Internal Belum Beres, Jangan Bicara Eksternal!
Predi menilai, konflik internal yang terjadi di tubuh KNPI Pangandaran adalah cermin lemahnya konsolidasi dan komunikasi antar pengurus dengan OKP anggota.
"Ini bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Ini soal sistem. Bagaimana mungkin sebuah lembaga kepemudaan tingkat kabupaten bisa mengawal isu-isu strategis seperti pengangguran, pendidikan, narkoba, dan infrastruktur, jika di internalnya saja masih terjadi tarik-menarik kepentingan dan hilangnya kepercayaan?” tegasnya.
Ia mencontohkan, saat ini warga Pangandaran masih terdampak putusnya akses akibat jembatan runtuh. Di sisi lain, pemuda juga menghadapi krisis lapangan kerja dan minimnya ruang kepemudaan yang produktif.
"Energi kita seharusnya habis untuk itu. Bukan habis untuk berdebat di internal organisasi," tambahnya.
2. Mendesak Rekonsiliasi dan Evaluasi Kepemimpinan
Predi secara tegas mendorong Ketua DPD KNPI Pangandaran untuk segera mengambil langkah kesatria. Bukan dengan defensif, tetapi dengan membuka ruang dialog seluas-luasnya bersama seluruh OKP.
"Jabatan adalah amanah. Ketika amanah itu sudah tidak lagi dipercaya oleh mayoritas konstituennya, maka evaluasi adalah keniscayaan. Kami mendesak agar segera digelar forum konsolidasi akbar yang melibatkan semua OKP tanpa kecuali," desak Predi.
Menurutnya, rekonsiliasi bukan berarti mencari siapa yang menang. Rekonsiliasi adalah upaya menyelamatkan marwah KNPI agar tidak kehilangan legitimasi di mata pemuda Pangandaran.
Ia juga mengingatkan bahwa pemuda tidak butuh seremoni. Pemuda butuh aksi nyata dan kepemimpinan yang hadir.
"Jika rumah besar ini terus dibiarkan bocor, jangan salahkan jika pemuda nanti memilih membangun rumahnya sendiri. Dan itu akan menjadi kerugian besar bagi Pangandaran," pungkasnya.