81 Tahun Indonesia Merdeka: PMII Pangandaran Ajak Refleksi, Jangan Biarkan Kemerdekaan Hanya sekedar panggung Seremonial tanpa nilai
Dari Sejarah, Pendidikan, Ekonomi, Hingga Kesehatan: Saatnya Kemerdekaan Dirasakan Secara Merata
PMII Pangandaran
16 Agustus 2026 · 3 min baca · 69 views

PANGANDARAN – 81 tahun Indonesia merdeka. Tapi bagi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII Kabupaten Pangandaran, angka itu bukan sekadar seremoni tahunan saja. Ia adalah cermin untuk bertanya: sejauh mana cita-cita para pendiri bangsa dan darah para pahlawan yang gugur sudah kita rawat?
Kader PMII Pangandaran, Predi Supriadi menegaskan bahwa kemerdekaan adalah sebuah amanah sejarah yang harus terus dihidupkan. Tidak hanya sekedar dikenang saat 17 Agustus saja.
“Sejarah adalah guru. Kalau kita lupa akan sejarah, Tidak mustahil penjajahan dalam bentuk baru hadir. Hari ini penjajahan tidak lagi berwujud perang menggunakan senjata, terkadang ia hadir dengan kebijakan yang tidak berpihak, korupsi yang dilakukan oleh pejabat dan bisnis yang berjalan atas hak-hak dasar rakyat,”
PMII Pangandaran mengajak untuk melakukan refleksi kritis terhadap 3 aspek utama kehidupan berbangsa:
1. PENDIDIKAN: JANGAN DiJADIKAN SEBAGAI KOMODITAS
Realitasnya, pendidikan hari ini makin jauh dari filosofi mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekolah dan kampus sebagian sudah mulai bergeser menjadi ladang bisnis bagi pengelola, Biaya makin mahal, komersialisasi makin masif, esensi pendidikannya nol besar.
Padahal pendidikan seharusnya bisa membebaskan bukan membebani. Tujuannya untuk membentuk manusia yang berpikir kritis, beradab, dan punya keberpihakan terhadap rakyat serta peduli atas realitas yang terjadi dalam sosialita kehidupan kemudian evaluasi kurikulum sehingga tidak hanya mengejar angka, tapi juga dengan nalar. Kembalikan ruh pendidikan sebagai alat emansipasi, bukan sekadar sertifikat untuk kerja.
2. EKONOMI: KEMERDEKAAN YANG BELUM DIRASAKAN RAKYAT SECARA MERATA
Terhitung 81 tahun merdeka, tapi jurang ketimpangan masih lebar. Per hari ini masih banyak lulusan perguruan tinggi yang masih mencari pekerjaan kesana kemari. Tidak sedikit juga generasi muda yang lebih memilih merantau ke luar negeri yang dikarenakan lapangan kerja di dalam negeri tidak menjanjikan. Begitu juga dengan daya beli masyarakat yang terus tertekan di tengah naiknya harga kebutuhan pokok dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Kiranya hal Ini bukan soal kurang kerja keras rakyat akan tetapi persoalan arah kebijakan ekonomi yang belum berpihak.
Pemerintah harus fokus pada ekonomi kerakyatan. Perkuat UMKM, koperasi, dan pertanian sebagai tulang punggung ekonomi. Ciptakan lapangan kerja yang berbasis potensi daerah. Hentikan orientasi pembangunan yang hanya menguntungkan segelintir kelompok kemudian Stabilkan harga bahan pokok dalam kehidupan dan lindungi nilai rupiah sebagai bentuk kedaulatan ekonomi negara.
3. KESEHATAN: HAK DASAR YANG MASIH JAUH
Di banyak pelosok, termasuk di beberapa desa di Pangandaran, akses ke puskesmas dan rumah sakit masih sulit. Biaya pengobatan juga masih memberatkan dan Tenaga kesehatan serta fasilitas belum cukup merata. Kesehatan bukan semata barang mewah Ia adalah hak dasar warga negara yang dijamin konstitusi. Perkuat layanan kesehatan primer sampai ke desa. Tambah tenaga medis dan fasilitas di daerah tertinggal. Pastikan pembiayaan kesehatan juga tidak menjadi beban baru bagi rakyat miskin. Negara tidak boleh abai pada kesehatan rakyatnya.
Dalam momentum 81 tahun ini, PMII Pangandaran mengingatkan para pemangku jabatan: kekuasaan adalah titipan Makq manfaatkan dengan sebaik-baiknya Jangan digunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu saja. Sejarah juga mencatat, bangsa ini merdeka karena pengorbanan maka jangan dinodai dengan keserakahan.
“Para pemuda, khususnya mahasiswa juga harus menjadi penjaga api perjuangan. Tidak boleh apatis terhadap keadaan. Jangan sungkan untuk menyampaikan kritik yang dilandasi kajian yang jelas karena hal tersebut bagian dari cinta kita terhadap negeri,”
PMII Pangandaran berkomitmen untuk terus menjadi organisasi kader yang melek akan realitas, kritis terhadap keadaan dan bergerak untuk terus memperjuangkan kesejahteraan masyarakat pinggiran.